Kisah Sepiring Nasi Dan Segelas Teh Manis Kakek Tukang Sampah Yang Menggetarkan Hati

Kisah kakek tukang sampah yang ada di Jakarta ini sungguh mengharukan. Kehidupan kakek yang penuh dengan kekurangan, namun si kakek ini tidak mau dikasihani dan selalu berbagi kepada sesama. Sungguh kisah yang sangat menusuk hati dan membuat kita semua geleng kepala karena kebaikan dan ketulusan kakek tukang sampah ini.

Diceritakan oleh seorang pegawai kantor yang terlibat obrolan dengan kakek tukang sampah tersebut. Kisah ini bermula ketika pemuda pegawai kantor tersebut sedang mencari makan, namun pemuda tersebut kesulitan mencari tempat duduk karena semua tempat duduk sudah di duduki orang. Hingga akhirnya ada seorang kakek tua mempersihkan duduk di sampingnya. Diperhatikan kakek tua tersebut sudah sangat tua, giginya ompong, rambutnya putih, badannya kurus, dan membawa tas besar dan kresek yang isinya plastik-plastik. Dari sinilah pemuda tersebut terlibat obrolan dengan kakek tukang sampah tersebut.

Kakek tidak banyak bicara, namun prilakunya membuat hati bergetar. Ketika pemuda pegawai kantor tersebut berbicara dengan kakek tukang sampah, pemuda yang tidak disebutkan namanya tersebut berkali-kali mendengar bunyi perut kakek yang sedang kelaparan.

Kisah Sepiring Nasi Kakek Tukang Sampah Yang Menggetarkan Hati

Mendengar hal tersebut pemuda itu berinisiatif membelikan nasi untuk kakek, Namun tak disangka kakek tersebut menolak dengan halus "Waduh mas, saya tidak punya uang buat bayarnya" Ujar kakek dengan lirih.

Namun pemuda tersebut terus membujuk sang kakek agar mau menerima nasi pemberiannya tersebut. "Gak papa pak, makan aja, saya yang bayarin dah, saya lagi ulang tahun hari ini" kata pemuda tersebut sambil berbohong.

Sang kakekpun terus mengucapkan syukur berkali-kali dan berterimakasih.

"Makasih sudah dibelikan makanan. Saya belum makan dari kemarin sebetulnya. Cuma saya malu mas, saya pengen beli makanan dengan uang sendiri karena saya bukan pengemis. Saya sebenarnya lapar sekali mas, tapi saya belum dapat uang hasil; nyari sampah" Kata sang kakek.

Pemuda tersebut pun tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa. Tanpa sadar dia hampir meneteskan air mata. Sambil makan sanga kakek menceritakan tentang keluarganya. Dia mengaku punya dua anak, yang satu meninggal karena kecelakaan, dan yang satunya lagi pergi dari rumah dan tidak pernah pulang hingga 3 tahun. Istrinya meniggal dunia karena penyakit kanker, parahnya lagi rumahnya di ambil orang karena tidak bisa melunasi hutang untuk pengobatan istrinya tersebut.

Kisah sang kakek ini sungguh miris. Namun sang kakek tak mau menyerah, dia pantang menengadahkan tangan, meminta-minta. Karena merasa iba dengan sang kakek, pemuda tersebut dengan sedikit memaksa memberikan uang kepada sang kakek tukang sampah tersebut.

Namun apa yang terjadi? Sang kakek tersebut kembali membuat pemuda tersebut tercengang. Waktu hendak meninggalkan tempat, pemuda tersebut bertemu lagi dengan sang kakek yang sudah berada di depan kotak amal masjid. Sang kakek memasukan uangnya ke kotak amal tersebut. Subhanallah, 

walaupun dirinya penuh dengan kekurangan namun sang kakek tetap berusaha pantang menyerah tanpa mengharap belas kasih orang lain. Derajat dan moral kakek tukang sampah ini jauh lebih tinggi dari tokoh-tokoh politik negeri ini yang terlibat kasus korupsi.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

wdcfawqafwef