Beginilah Perasaan Campur Aduk Para Algojo Nusakambangan

Menjadi seorang Algojo memanglah tidak mudah. Perasaan campur aduk ketika akan menjalankan tugas negara ini kerap menghampirinya. Seorang polisi Brimob yang merupakan salah satu tim algojo nusakambangan memberikan testimoni tentang perasaan campur aduk ketika menjalankan tugasnya sebagai algojo.

Beginilah Perasaan Campur Aduk Para Algojo Nusakambangan

Dalam eksekusi mati ini setidaknya ada 11 terpidana yang akan di eksekusi di Nusakambangan. Dua diantaranya adalah anggotan Bali Nine asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Namun belum ada kepastian kapan waktu eksekusi tersebut akan di laksanakan.

Dalam wawancara salah satu anggota Brimob yang merupakan regu tembak, Dia mengaku emosinya campur aduk, antara nurani sebagai manusia biasa yang mengasihi sesama manusia dengan tanggung jawab sebagai petugas negara.

Bagi seorang polisi menarik pelatuk senjata bukanlah hal yang sulit. Namun hal yang membuat mereka sulit adalah ketika jiwa manusia biasa mereka tersentuh. Yaitu ketika mereka berhadapan dengan orang-orang yang akan mati dalam kondisi tangan dan kaki terikat di tiang dengan ikatan yang sangat kuat.

Beban mental memang selalu memberatkan bagi para petugas para terpidana mati ini. Mereka terlibat langsung menjemput, mengikat hingga para narapidana ini pergi untuk selama-lamanya.

"Maaf karena tugas" kalimat itulah yang selalu ada di dalam hati para algojo ini. Bagi para Brimob, hal ini adalah hal paling suram dari bagian pekerjaannya. Merekalah orang yang terakhir kali menyentuh para tahanan sebelum mereka menjemput ajal.

Tim eksekusi terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama di tugaskan untuk mengawal dan membelengku para tahanan, dan bagian kedua bertugas sebagai regu penembak. 5 petugas Brimob di tugaskan untuk menangani setiap tahanan. Mulai mengawal para tahanan dari sel isolasi ditengah malam hingga menemani para tahanan ke tanah kosong tempat eksekusi.

Tahanan dapat memutuskan apakah mereka ingin menutup wajah mereka sebelum di ikat atau tidak. Hal tersebut untuk memastiak hati atau tubuh mereka tidak bergerak. Beberapa saat sebelumnya, para terpidana diberi kesempatan untuk berbicara dengan penasehat agama. Walaupun mereka di ikat dengan tali yang sangat kuat, namun petugas melakukan hal tersebut dengan sangat lembut.

"Saya tidak melakukan percakapan dengan para tahanan. Saya memperlakukan mereka seperti anggota keluarga saya sendiri, saya katakan saja, Maaf, saya hanya menjalankan pekerjaan" Ujar polisi Brimob yang menjadi tim eksekutor.

Eksekusi sendiri biasanya dilakukan dalam kondisi gelap dan hanya diterangi obor. Regu penembak terdiri dari 12 orang yang berdiri dengan jarak 5 hingga 10 meter. Mereka akan menembak setelah di beri perintah. Namun dari 12 senapan tersebut tidak semuanya terisi peluru. Bahkan para penembak sendiri tidak tahu siapa yang akhirnya mengahiiri hidup sang narapidana.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

wdcfawqafwef